Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerpen

Selamat, Anda Tersesat!

Selamat, Anda Tersesat! Waktu kecil, saya pernah hilang di antara kerumunan orang banyak. Kejadiannya sangat singkat. Di satu saat saya sedang berdiri berdampingan dengan ayah saya di depan etalase toko sepatu, dan di saat lainnya saya meraung di tengah arak-arakan massa yang mengiringi jalannya sepasang Ondel-Ondel. Usia saya sekitar empat, lima tahun. Pikiran saya langsung kalut. Saya yakin saya tersesat dan takkan pernah lagi menemukan jalan pulang. Tapi saya tetap berusaha. Apa hal terakhir yang saya ingat? Mobil! Logika saya saat itu, dua puluh delapan tahun lalu, berbunyi: “Bila saya menunggu di samping mobil, saya aman. Orangtua saya pasti kembali ke mobil mereka sebelum pulang.” Namun begitu saya tiba di tempat parkir, saya menemukan begitu banyak mobil berjajar dari ujung ke ujung hingga saya tak ingat lagi yang mana mobil keluarga saya. Saya hanya ingat warnanya putih. Dan warna itu ada di mana-mana. Saya melongok...

Perjalanan ke Barat (Bab Satu)

Gambar
  Perjalanan ke Barat (Bab Satu) Juni 10, 2013 Diterbitkan pertama kali pada tahun 1592, Journey to the West atau ‘Perjalanan ke Barat’ merupakan satu dari Empat Karya Klasik Terbaik Cina. Bercerita tentang perjalanan sekelompok pendeta dari Cina ke India untuk mengambil teks ajaran (kitab suci) agama Budha / Taoisme agar kemudian disebarkan ke masyarakat luas, kisah ini sudah berkali-kali diadaptasikan ke dalam berbagai platform narasi, baik itu komik, teater, film layar lebar, serial televisi, musik, tarian, video game , ataupun lukisan. Keempat tokoh yang mendominasi kisah ini pun tak luput dari perhatian masyarakat, terutama Bhiksu Tang dan Sun Go Kong, si siluman monyet yang nakal dan banyak akal. Meski begitu, tingginya popularitas kisah petualangan ini dan banyaknya adaptasi yang beredar membuat karya ini jarang dinikmati dalam bentuk aslinya (novel). ‘Perjalanan ke Barat’ terbagi ke dalam empat buku, namun dala...

KOMA

Adeste Adipriyanti Kuletakkan gagang telepon. Aku mulai terisak. Tentulah bukan sebuah berita menggembirakan yang baru saja kudengar. Berita perpisahan pahit dari orang yang sangat kusayangi. Mendadak kamar kosku jadi gelap dan sempit. Suara-suara menjauh, menyuramkan suasana. Aku terkulai lemas memegangi lututku yang bergetar, terlarut dalam kesedihan tak terbendung. Kamar kos, Jumat pukul 06.00 Tangisku mulai mereda. Aku tidak pernah merasakan campuran emosi seperti ini. Kini aku tidak tahu harus bagaimana melangkah tanpa sosoknya.  Mataku tak sengaja menangkap sebuah foto yang terpajang di sudut ruangan. Fotoku dengannya, di rumahnya yang teduh beberapa bulan yang lalu. Dan kini ia telah pergi. Bagaimana mungkin masa-masa ceria kami dengan cepat berganti kelabu. Begitu cepatnya Oma Tara meninggalkan kami. Hal ini tidak mungkin terjadi, Oma masih punya empat tahun lagi untuk hidup. Aku meraih dompetku dan mencari-cari secarik kertas merah. Tertera serangkaia...

raksasa egois

Oscar Wilde | (diterjemahkan oleh Clara Ng) Setiap petang, saat pulang dari sekolah, sekelompok kanak-kanak pergi ke kebun Raksasa untuk bermain-main. Kebun itu sangat luas dan cantik, dengan bentangan rumput hijau yang empuk. Dari ujung ke ujung, bunga-bunga betebaran di antara rerumputan bagaikan bintang-gemintang. Ada dua belas pohon persik yang di Musim Semi mengubah dirinya menjadi kelopak-kelopak berwarna merah jambu dengan semburat kilau mutiara, sementara di Musim Gugur, pohon itu mempersembahkan buahnya yang lezat. Burung senang hinggap di batang pohon dan bersiul sangat merdu, sampai-sampai kanak-kanak itu berhenti bermain untuk menikmati suara indah sang burung. ‘Betapa riangnya kami di kebun ini!’ mereka saling berseru-seru satu sama lain. Suatu hari, Raksasa kembali pulang. Dia memang sempat pergi selama tujuh tahun untuk mengunjungi sahabatnya, Raksasa dari Cornish. Selepas tujuh tahun, setelah dia menyampaikan kepada sahabatnya semua yang ingin dia kat...

cinta terpendam

CINTA TERPENDAM oleh : manuel payno Sudah lama Alfredo tidak mengunjungiku; lalu tiba-tiba saja, entah dari mana, dia muncul di kamarku. Wajahnya yang pucat; rambut panjangnya yang tergerai menutupi pipinya yang tirus; matanya yang memancarkan kesedihan; serta tanda-tanda penyakit serius yang tersebar di sekujur tubuhnya membuatku sangat waswas. Aku sampai tidak tega menanyakan apa penyakit yang dideritanya; ataupun sebab penyakitnya. “Aku berada dalam kondisi ini gara-gara hal konyol, gara-gara pemikiran yang dipenuhi oleh impian,” kata Alfredo. “Kalau mau disingkat, penyebabnya hanya satu: cinta terpendam.” “Apa mungkin?” “Akan kuceritakan,” lanjut Alfredo. “Aku takkan menyebutkan secara spesifik siapa-siapa saja yang terlibat dalam cerita ini, namun kurasa kau pasti bisa mengerti isi ceritanya. Cerita semacam ini selalu meninggalkan kesan mendalam pada diri seseorang. Goresan luka yang bahkan tak bisa dihapus oleh waktu.” Nada bicara Alfredo sarat akan rasa ...