Postingan

Menampilkan postingan dengan label bernard batubara

Seorang Perempuan di Loftus Road

Seorang Perempuan di Loftus Road Cerpen Bernard Batubara - ditulis sebagai respons untuk cerpen Sungging Raga, S ebatang Pohon di Loftus Road Lihatlah. Lelaki itu duduk di sana, tersenyum bahagia, bersama seorang perempuan cantik dan anak gadis yang lucu, di bangku berhias salju di mana aku pernah dengan cukup sabar dan tabah menunggunya selama berjam-jam sebagai seorang perempuan, sebelum akhirnya aku menyerah dan menghabiskan tahun demi tahun usiaku hidup menjelma sebagai sebatang pohon. Loftus Road, sejak puluhan tahun yang lalu telah menjadi tempat di mana ribuan pasangan kekasih saling mengikat janji untuk bertemu. Sebagaimana sebuah janji manusia, ada di antara mereka yang ditepati oleh pemiliknya, ada pula yang tidak. Sayangnya, aku termasuk satu dari banyak sekali yang bernasib malang. Kini, Loftus Road membuatku menjadi seperti ini. Aku bukan pohon yang istimewa, kukatakan kepadamu. Aku hanya satu dari ratusan batang pohon yang berdiri dengan tabah di...

Duduk di Depan Minimarket Pukul Lima Pagi

aku sedang menunggu diriku yang datang dari masa lalu, dan dia membawa luka dari masa depan untukku, dan dia datang sambil tersenyum dan menyerahkan luka itu dalam kado berpita hijau, dan katanya hijau tidak ada lagi di kota-kota namun hujan masih banyak di kata-kata, dan aku tidak sempat mengangguk atau menggeleng ketika roti isi sosisku jatuh tersenggol tanganku yang diam-diam hendak meraih tangannya, dan katanya tidak perlu menggenggam tanganku untuk memilikiku, sebab hati adalah tubuh yang memiliki ribuan tangan dan mustahil bagimu untuk menggenggam seluruhnya, dan aku tidak tidak sempat membalas ucapannya dengan iya atau tidak atau mungkin saja, ketika dia sudah pergi meninggalkan selembar surat yang kubaca saat ini pukul lima pagi di atas kursi minimarket sebuah stasiun kereta kota besar, dan katanya di surat itu: jangan menungguku, aku akan menjadi dengan orang lain d...

puisi

Gambar

memandang

Gambar

Goa Maria

Gambar

puisi kata hati

Gambar
Kata Hati     by Bernard Batubara   Ini tentang kisah kehilangan, ketika kau mendapati separuh hatimu kosong dan merapuh. Atas nama ketidakpercayaan, kita telah saling mengucapkan selamat tinggal. Ketika tak ada lagi yang bisa kau percaya, ikuti kata hati. Begitu seharusnya, bukan? Dan, hati ini membawaku kembali kepadamu. Tapi, kau tak lagi berada di tempat kita dahulu. Apakah kau telah menemukan separuh hati lain—selain hatiku?

cerpen Cermin bernard batubara

Gambar
Cermin Cerpen Bernard Batubara ( Suara Merdeka , 25 April 2010) Percakapan dengan Cermin I DADANYA berdesir, Maila takjub melihat wajahnya sendiri di cermin. Serupa benar dengan wajah seorang putri, katanya dalam hati. Ya, kau memang cantik, Maila . Wajahnya tersipu mendengar pujian itu. Pipinya merona. Merah muda. Ia tersihir oleh bayangannya sendiri. Bayangan ketika ia masih berada pada masa empat puluh tahun lalu. Wajahnya cerah, berseri-seri. Setengah terpana melihat kecantikannya sendiri. Rambutnya panjang, berwarna hitam kecokelatan, berkilat, bergelung seolah ombak. Dahinya licin. Matanya bulat, berbinar-binar. Hitam pekat seperti langit malam. Dikedip-kedipkannya matanya, hingga ia perhatikan bulu matanya yang tebal dan lentik. Tebal serupa alisnya yang melengkung menaungi sepasang matanya yang indah itu. Diturutkannya telunjuknya, dari hulu hingga muara alisnya. Cantik sekali dirimu, ia membatin. Ya, kau memang cantik, Maila . Hidungnya, ia melihat hi...

bernard batu bara

Bernard Batubara website http://bisikanbusuk.com twitter username benzbara_ genre Poetry , Romance , Fiction About this author Bernard Batubara lahir 9 Juli 1989 di Pontianak, Kalimantan Barat; saat ini tinggal di Yogyakarta. Tahun 2012 menamatkan studi Teknik Informatika di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Selama kuliah aktif di lembaga pers mahasiswa. Belajar menulis sejak medio 2007. Puisi dan cerpennya dimuat di majalah seni GONG, harian Kompas, Batam Pos, Koran Tempo, Suara Merdeka, Jurnal Nasional, Pontianak Post, dan antologi bersama: “Teka-teki tentang Tubuh dan Kematian” (2010), “Pedas Lada Pasir Kuarsa” (2010), “Percakapan Lingua Franca” (2011), "Tuah Tara No Ate" (2011), “Mata” (2012), “Empat Cangkir Kenangan” (2012), "Cerita Hati" (2012), "Singgah" (2013), dan "Through Darkness To Light" / Habis Gelap Terbitlah Terang (2013). Buku tu...

darah juang

Gambar
Disini negri kami , tempat padi terhampar , samudranya kaya raya , tanah kami subur tuan. Dinegri permai ini , berjuta rakyat bersimbah luka , anak kurus tak sekolah, pemuda desa tak kerja. Mereka dirampas haknya , tergusur dan lapar , binda relakan darah juang kami , untuk membebaskan rakyat .